Nikita ~ Di Doa Ibuku Namaku Disebut

(Akh… mungkin gara2 SMSan ma kawan (lama) tadi malam jadi keinget blog lagi deh)

Sejatinya blom ada niat apdet c, namun saat lagi mulai iseng blokwolking, rupanya ada kabar lelayu ibunda keluarga sahabat bloger BM. Sebenernya c, dia menyebut dirinya sebagai Big Mike, namun saia lebih suka mengetiknya Bung Mike ato kalo yg punya nama maksa2in terus yaa… maksimal terpaksanya mengetik namanya as BM aja coz saia nggak suka ma kata Big yg ngingetin ma Bu nDuuut yg saia betul2 sebelin sekali di film Big Momma’s House.

Juga bwat sobit kantor yang ayahandanya baru meninggal dunia beberapa hari lalu, mohon maaf saia tak bisa ikut melayat waktu itu. Meskipun temen2 udah berusaha sabar menungguiku, namun rupanya saia tak cukup berdaya membebaskan diri dari situasi dan kondisi yang membelenggu seperti ketakberdayaan saia milih2 lagu dan posting blog di hari2 standard.

Demikian juga saia dengar kabar biksu tertua di Indonesia Rshi Dewa Dharmaputra telah meninggal dunia pada 27/12-’08 lalu dalam usia 100 tahun yang jenasahnya rencananya dikremasi kemarin di Semarang. Saia tak sempat posting spesial bwat sobat-sobit umat Budha. Jadi borongan aja yaa….

Melayat, tilpun, mengirim karangan bunga, posting di blog ataupun cara-cara lain adalah bagian expresi dari kesadaran diri sebagai makhluk sosial yang saling menghormati dan menghargai sesamanya.

Akh… jadi inget iklan lelayu di Kompas beberapa hari lalu berjudul:
PINDAH ALAMAT

Hmm… istilah ini baru bagi saia. Selama ini judul yg sering saia baca adalah Inna Lillahi wa Inna illayhi Roji’un [QS 2:156] ato R.I.P (Rest In Peace). Gak ada yang salah sih. Gak ada yang wagu jugak kok. Cuman………………… katanya iklannya ndomi di tipi khan:
Kata bisa menipu tapi rasa tidak akan pernah bisa menipu” (zet dah!.. saia sampe apal geto ya?!)

Lama2 kedua kalimat judul itu kok serasa… maaf maaf aje yee kalo saia bilang terus terang… serasa rada2 arogan geto loh. Kesannya seolah-olah ingin menunjukkan siapa gerangan orang yang meninggal dunia ato apa agamanya terakhir sebelum wafat. Jadi yg agamanya beda nggak usah ikut2an ndoa2in. Eh, geto gak ya?😕
Pemilihan judul iklan lelayu ini, menurut saia maknanya dualleemmm…. Keduanya mengisyaratkan bahwa kematian sejatinya adalah suatu kebahagiaan.

Sejatinya kita berasal dari Tuhan (Illah) dan sejatinya hanya kepada Tuhan lah kembali. Wow!… banyak orang hidup belajar kesana kemari nyari2 Tuhan, berdoa siang malam agar mendapat tuntunan menuju jalan Illahi, dst. dst. Bagi orang yang beragama, apalagi yang lebih membahagiakan daripada kembali kepada Tuhan khan? Dengan kematian manusia akan kembali kepada Tuhan. Demikian juga, judul yang kedua juga mengesankan kematian adalah jalan menuju kenyamanan istirahat total nan damai di surga sana. Pendek kata, bagi orang yang mengimani bahwa surga adalah kenyamanan unlimited dan ingin masuk surga maka kematian adalah puncak kebahagiaan hidup. Gimenong bisa nyampe sorga kalo nggak mau lewat mati, khan?! Gak ada jalur alternatip menuju surga selain melewati kematian.

Itulah… saia suka bingung ndiri kalo pas salaman saat melayat, tilpun ato ngirim karangan bunga. Mau ngucapin sesuai judul iklan lelayu yang manakah? Turut beruduka cita kah? eLLoh…. keknya aneh deh rasanya, orang wafat khan harusnya berbahagia karena mau kembali kepada Tuhan dan menuju surga. Bukankah seharusnya keluarganya juga turut berbahagia karena ada anggotanya keluarganya yang sudah mendahului berangkat menuju surga?! Lah ini mosok sih malah mengucapkan turut berduka cita. Piye to iki??😕 Lagian, andaikata pun orang2 mengucapkan “Turut berduka cita” saia rasa belum tentu orang2 itu jujur, apalagi kalo gak begitu kenal ma yang meninggal dunia, mo mrasa duka cita dari menong?

Mank c, udah sewajarnya manusia sedih bila kehilangan, terlepas apakah itu kehilangan ayah, ibu, motor (curanmor), rumah (banjir masih melanda beberapa daerah yaa..), mata pencaharian (krisis global bo), jabatan, keperkasaan, akal, dll. sebelum kehilangan nyawa. Pada umumnya kehilangan berdampak kesedihan. Barangkali karena itulah, pada umumnya orang melayat mengucapkan “Turut Berduka Cita”, meskipun saia tak tau apakah orang yang kehilangan nyawa itu sejatinya sedih seperti halnya kehilangan pada umumnya atokah malah bahagia seperti pemahaman judul iklan lelayu diatas. Lha orang mati khan nggak bisa ditanyain. Eh ditanyain sih bisa, tapi nggak bisa njawab ding. Eh mungkin bisa njawab, tapi jawabannya nggak bisa didengar oleh orang yang bertanya. Mati ya mati.

Barangkali ucapan duka cita ini adalah dampak trend judul-judul iklan lelayu pra reformasi. Pada masa itu iklan2 lelayu di koran mayoritas berjudul “Berduka Cita”, “Berita Duka Cita” ato “Turut Berduka Cita”, dsb. Semakin banyak nama perusahaan ato perorangan dalam daftar turut berduka cita, dan semakin besar iklan Turut Berduka Cita maka akan semakin bergengsilah keluarganya. Alih-alih, semakin banyak yang melayat maka manusia yang meninggal dan keluarganya dianggap akan semakin terpandang.

Ada aja orang yang mendebat fakta banyaknya yang melayat secara spontanitas saat Ibu Tien Soeharto meninggal. Ada yang bilang, “Ya wajar saja yang melayat banyak, lha wong Bu Tien waktu itu khan suaminya masih menjabat presiden”. Jumlah pelayat yang fenomenal yang saia ingat adalah meninggalnya Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Menurut foto2 udara, tidak hanya kota Jokja menuju komplek makam di desa Imogiri saja yang penuh sesak. Namun nyaris seluruh jengkal propinsi DIY orang2 pada keluar rumah semua. Ada family, karena putus asa tidak bisa keluar dari bandara, maka anak-anaknya yang masih kecil2 dibeliin pakaian tradisional dan didandanin bak putra-putri raja agar bisa melawati kerumunan massa menuju kraton. Sang Ibu pun juga dandan abis2an sambil memportontonkan anak2nya di depan, teriak2: “Nyuwun sewu… cucu Sultan… numpang lewat, nyuwun sewun… cucu Sultan..”. Orang2 pun pada minggir memberi jalan. Wah pembohongan publik dong? Menurut Ibu itu, enggak jugak sih, khan dia nggak bilang kalo anak2nya adalah cucunya Sultan HB IX, cuman nyebut aja “cucu Sultan”. Weleh… bisak aja.

Pada saat saia mati nanti, kira2 berapa orang yang melayat ya? Judul iklan lelayu di koran2 mau ditulisin kalimat yang mana?

Masa mayoritas iklan lelayu di koran2 dengan judul ini “Duka Cita” ini adalah masa2 Tembang kenangan. Kalo di Masa jadul, orang masih standard2 saja judulnya: “Berita Lelayu”, “Telah Meninggal Dunia”, dsb. Oleh karena itulah, tag untuk posting-posting di blog ini pun sejak awal saia pilih “Telah meninggal dunia“. Barangkali kalo dari dolo ini saia pernah baca judul iklan lelayu “Pindah Alamat” kek gini, mungkin saia akan pilih tag ini. Rasanya tag ini lebih gimmanaa… gitu, tapi ya udahlah.. terlanjur c.

“Kata bisa menipu tapi rasa tidak akan pernah bisa menipu”

Kalo menurut saia c, ada ko kata-kata yang tidak akan pernah bisa menipu bahkan kata-kata itu diucapkan sebagai doa secara tulus. Sah-sah saja ada orang yang tidak setuju dengan saia, namun sebaiknya sebelum membantah or mendebat habis pendapat saia ini, cubak deh dengar dolo lagu sadur ulang dari “My Name in Mother’s Prayer” ciptaan Peter P. Bilhorn putra Mendota, Illinois, USA ini.

(I have to must back to Amusti Palalo pyang penjol a.k.a RODI. Mudah2an c lekas tuntas tass.. smuanya n then BRB to standard)

Artis (Band): Nikita / Peter P. Bilhorn

Di waktuku masih kecil, gembira dan senang
Tiada duka kukenang, tak kunjung mengerang
Di sore hari nan sepi ibuku bertelut
sujud berdoaku kudengar.. namaku disebut

Di doa ibuku
namaku disebut
Di doa ibu kudengar…
ada namaku disebut

~{}~

Seringlah ini kukenang di masa yang berat
di kala hidup mendesak dan nyaris kusesat
Melintas gambar ibuku sewaktu bertelut
kembali sayup kudengar.. namaku disebut

Di doa ibuku
namaku disebut
Di doa ibu kudengar…
ada namaku disebut

~{}~

Sekarang dia t’lah pergi ke rumah yang senang
namun kasihnya padaku selalu kukenang
Kelak di sana kami pun bersama bertelut
memuji Tuhan yang dengar namaku disebut

Di doa ibuku
namaku disebut
Di doa ibu kudengar…
ada namaku disebut

Di doa ibuku
namaku disebut
Di doa ibu kudengar…
ada namaku disebut

ada namaku disebut

5 Tanggapan

  1. friend is need is friend indeed . Terima Kasih. Tuhan Memberkati

  2. Mas JIMI, saya minta ijin untuk copy paste posting mas JIMI ke kolom komentar di blog saya. Takzim Mas

  3. Numpang link aja

  4. sejuklah jiwa ketika aku ada disamping ibuku

  5. maksa bangets….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: