Bude Soerabaja

(tiba-tiba pengin posting personal nih… tapi kok, higs..😥 )

tiba-tiba sedih
tiba-tiba lirih
tiba-tiba perih
tiba-tiba terasa sendiri

Awalnya fajar subuh jumat kemaren, tiba-tiba tilpun rumah krang-kring beberapa kali. Saat kami terbangun, si emba (pinjam istilah para bloger), sudah bangun duluan. Ketika ditanya, tilpun dari siapa? Si emba yang baru join paska lebaran ini menjawab dengan lugunya: “Nggak tau tuh, si ibu sana cuma nangis-nangis aja”.

Tak lama kemudian tilpun kring lagi, langsung diangkat ma si bune (= istri saia). Ternyata dari papanya yang rumahnya dipisahkan kali dengan rumah kami.
Papa: “Halo”
Bune: “Ya pa..”
Papa: “Bude…”
Bune: “Buuu..de? Kenapa?”
Papa: “Bude meninggal”
Bune: “Innnalillahi… bude siapa?”
Papa: “Bude… ya bude!”
Bune: “Bude yang mana?”
Papa: “Bude kamu”
Bune: “Yaa.. tapi bude yang mana pa?”
Papa: “Yaa… bude!”
Bune: “Papa, tenang dulu.. ambil napas pa”

~ (diam) ~

Papa: “Bude Surabaya”

Jwuegglaaar!!.. Langit kelap-kelip, bumi gonjang-ganjing.. hoooo….

Tanpa sempat berdandan dulu, selain ganti baju n cuci muka ala Mr. Bean, kami pun langsung menuju rumah Bude yang terkonek dengan rumah mertua lewat 3G (tiga gang). Sesampai disana sudah ada beberapa tetangga. Memang, komplek ini adalah komplek eyang-eyang yang sudah puluhan tahun tinggal disana. Tak mengherankan, rasa gotong-royong terasa begitu kental. Setiap individu sudah punya kesadaran masing-masing apa saja yang bisa di-share. Sungguh saia tak tahu, tak lama setelah itu, entah dari mana tiba-tiba sudah ada sarapan, kursi-kursi sudah tertata, karpet, berbagai Al Quran, dll. Bahkan tahlilan tadi malam sudah ada tetangga yang mengaturnya.

Yah, kami biasa memanggilnya Bude Surabaya. Karena beliau sejak dulu kala tinggal di Surabaya. Bahkan tinggal sendirian setelah putra tunggalnya meninggal karena kecelakaan dan suaminya pun sudah lama meninggal. Bertahun-tahun kami merayunya habis-habisan agar bude mau hijrah ke Jakarta dimana banyak saudara disini. Barulah sekitar lima tahunan lalu, tiba-tiba bude mau beli rumah yang sekarang tak jauh dari rumah mertua tersebut.

Diantara semua saudara, keluarga kami paling familiar dengan rumah bude ini. Soalnya paska bude surabaya beli rumah itu, keluarga kamilah yang meninggalinya selama beberapa bulan karena rumah kami sedang direnovasi total setelah akhirnya kami menyatakan menyerah total atas ganasnya serangan pasukan rayap-rayap yang bertubi-tubi. Sejak itu kami pun trauma dengan kayu. Sebagian perabotan kami, terutama yang terbuat dari kayu, ditinggal di rumah bude ini.

Menurut cerita mamah, pagi-pagi subuh jam ½ 5an tiba-tiba bude nilpun minta mamah ke rumahnya ASAP karena badannya terasa kurang enak. Mamahpun habis nyubuh langsung jalan kaki ke rumah bude. Sesampai disana, bude sudah tiduran di tempat tidur. Sambil mijitin bude, mamah sempat ngobrol sebentar sebelum meninggal. Tetangga pun pada kaget, karena kemarin pagi bude masih terlihat ikutan senam lansia. Adiknya yang tinggal di Cawang pun tak kalah kagetnya, karena sorenya tumben-tumbennya bude surabaya nilpun bude cawang. Udah gitu nilpunnya lama banget, cerita-cerita nostalgia kebersamaan mereka semasa kanak-kanak sampai remaja.

Bude kami ini kelahiran Jember 14 November 1923. Hari ultahnya tak beda jauh dengan mamah, ibu mertua saia, besok. Makanya, kita-kita sudah mau bikin sedikit kejutan dengan semacam pesta seni kecil-kecilan di hari ultahnya entar. Salah satunya nyanyi bareng dengan sedikit menggubah lirik lagu-lagu Bunda dan Mother. Inspirasi mengadakan pesta seni ini mungkin muncul setelah rame-rame nonton bareng Laskar Pelangi di hari ultah istri saia paska lebaran lalu.

Barangkali diantara semua ponakannya, istri saia paling deket dengan beliau. Minimal seminggu sekali, saptu pagi kayak sekarang gini setelah lari pagi biasanya menyempatkan menyambanginya. Setelah tinggal di Jakarta, kelihatannya beliau lebih hepi. Selain tak jauh dari rumah adiknya, ada beberapa tetangga yang seumuran. Hidupnya pun nampaknya tambah semangat. Tak lama setelah tinggal di Jakarta, istri saia diminta nemenin beliau umrah sekalian wisata ziarah ke arab dan timur tengah. Itulah pertama kalinya bude ke luar negri sepanjang hidupnya.

Terakhir, istri saia diminta menemani jalan-jalan ke eropa yang diawali dari itali dan berakhir di jerman saat final piala sebakbola dunia beberapa tahun lalu. Saat itulah kami mulai terheran-heran campur kagum luar biasa ama bude kami itu. Kalo cuman bisa bahasa inggris n arab sih, kayaknya banyak orang indo bisa. Lhah ini, bude kami yang notabene berpuluh-puluh tahun hidup sendiri, belum pernah ke Eropa sama sekali, tak dinyana dan tak disangka, hampir di setiap negara yang dikunjunginya bude ngomong dengan bahasa lokal. Bahkan di banyak hotel menuliskan feedback buat manajemen hotel. Saia menduganya pesan-pesan tersebut ditulisnya dengan bahasa lokal juga, tapi ga tau juga sih. Soalnya kalo ketahuan istri saia, bude buru-buru ngumpetin surat yang sedang ditulisnya tersebut.

Saat ulang tahunnya terakhir tahun lalu, kami menanyakan: “Apa keingingan bude yang belum tercapai?”. Setelah semi-semi dipaksa, akhirnya dengan malu-malu bude mau ngaku, “Aku ingin ke Cina”. Dooh… Tak gampang lo mendampingi seorang nenek jalan-jalan. Barangkali kalo istri saia belom pernah ke Cina, bisa jadi doi akan dengan senang hati disuruh dampingin lagi. Soalnya salah satu hobi doi ikutan tur2 gituan. Mungkin gara-gara inilah doi yang sering kena tunjuk mendampingi bude surabaya ikut tur ke luar negri. Saia pun menebak-nebak, jangan-jangan bude ini bisa bahasa Cina pula. Tapi sewaktu saia tanyakan, seperti biasanya bude selalu menjawabnya secara gazebo (ga zelas boo..) alias gak pernah ngaku kalo bisa begini-begitu.

Sungguh otak dan nalar saia sulit ngebayangin, bagaimana pendidikan tempoe doeloe sehingga bisa bikin orang-orang kayak bude surabaya ini masih fasih aja berbagai bahasa seperti itu padahal sudah puluhan tahun tidak sekolah dan tidak dipake.

Sewaktu kami ke Jogja sekitar 3 tahunan lalu, begitu turun dari pesawat bude langsung minta dianterin jalan-jalan dulu mengenang saat-saat maen sepedaan ama teman-temannya SMA tempo doeloe. Sementara keluarga langsung ke hotel. Ketika saia tanya, kapan sih bude terakhir ke Jogja? Jawabnya: “Tahun 1942, lulus SMA”. Selulus SMA bude kembali ke Surabaya dan terakhir bekerja di Bank BRI sana sampai pensiun. Setelah itu hidup sendiri selama puluhan tahun sebelum hijrah ke Jakarta beberapa tahun lalu.

Sewaktu jalan-jalan ke Jogja itu kami sempat terkagum-kagum dibuatnya. Meskipun tanpa rikues namun (barangkali karena saia kelahiran jogja, ciee… ) saia bisa merasakan hasrat bude naik ke puncak Borobudur. Berhubung saia punya cacat bawaan sejak lahir yaitu phobia ketinggian, saia pun minta istri saia menemaninya naik ke atas. Bude ini secara fisik postur tubuhnya mirip nenek lampir tapi minus teken sakti. Pemandangan kayak gini menarik perhatian orang-orang sampe-sampe istri saia merasa semua orang memandanginya kecemasan. Sudah sampai 3/4 puncak, ada ibu-ibu dengan seriusnya wanti-wanti berujar: “Bu! Hati-hati, dijagain baik-baik neneknya yaa..” Ya aloh, ya robi… istri saia pun memutuskan turun.

Sesampai dibawah, meskipun bude tak komplen sama sekali namun (lagi-lagi) saia bisa merasakan bude kecewa berat. Karena ga tega, saia pun minta seorang adik ipar laki-laki ngawal bude ke atas lagi. Ternyata dengan semangat tinggi beliau naik lagi sampe puncak borobudur, sodare-sodare!

Bude, maafkan kami yang sering gak sabaran menghadapimu, bahkan ada kalanya kami tak kuasa menahan jengkel. Ah.. kami yakin banget-banget, tanpa minta maaf pun, pasti engkau sudah memafkan kami. Bude surabaya, kami begitu kagum padamu. Setidaknya kami yang suka merasa jauh lebih canggih, lebih berpendidikan, lebih gaul, lebih … … blablablabalabalabelobelo…. rasanya tetep aja kage ade ape-apenye.

Rendah hati dan tidak rendah diri
Keras hati dan tidak keras kepala
Semangat tinggi dan tidak tinggi hati

Tadi malem sampe rumah sekitar jam 10an lebih, bersama saudara yang menginap karena kecapaian, apalagi kalo nyupir pulang kerumahnya yang jauh nun disana. Saia tak sekejap pun nyentuh kompi. Bleksek. Tau-tau sudah pagi. Saat pergi tadi pagi, saia sempet nyamber laptop. Dan hari ini saia bisa posting.

*sniff* met jalan bude. Seneng-seneng disana yaa….

Ini aku kirimin video lagu yang waktu bude terakhir ke rumah kami pas acara keluarga menjelang ramadhan lalu kayaknya bude seneng nontonnya deh. Saia masih inget betul pas nyetel klip ini, dengan tercengangnya bude ngomen: “Lhoh.. yang namanya komputer itu bisa tahu juga lagu seperti ini ya?”.


Als de orchideen Bloeien

5 Tanggapan

  1. turut berduka cita… .

  2. – innalilahiwainnailahirojiun
    – om tajir yo, jalan2 ke luar negri molo
    – aduh itu si bude keren amat, sipa ojo cuma bisa bindo duang, bing ga becus, bajep bloon, apalagi barab.
    – (rep komen) kalo males ngomen, ya ga usah ngomen😡

  3. mas JM..
    higs.. ternyata sedih kita bareng yaa..
    walau latar belakang kita jauhhhhh…berbeda

    turut berduka yang dalam ya mas

    pasti di sana bude juga mo bilang,
    sudah ah, jangan sedih.. love will keep us ‘alive’..
    tetap semangat ..

  4. Yang sabar ya…
    n Tetap Semangat

    Kita semua pasti kembali ke Yang Memiliki..

  5. @semua
    terimakasih sobat2 bloger.

    Semoga sedang pada sehat n bahagia semuanya yaa…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: